Sabtu, 13 Oktober 2012

Sastra Tak Hanya Identik Dengan Keindahan

Sastra Tak Hanya Identik Dengan KeindahanSastra merupakan suatu cabang ilmu yang kental dengan adanya kebudayaan. Di Indonesia, kata sastra sering kali identik dengan keindahan (estetik). Setiap manusia pasti mempunyai imajinasi untuk melakukan pemikiran-pemikiran yang mengolah pengalaman menjadi sebuah karya. Namun, sebuah karya belum tentu bisa disebut karya sastra.

Diluar konteks keindahan. Kita harus mendalami ilmu sastra untuk dapat membuat suatu karya sastra. Contohnya saya dan blog ini. Saya menentukan puisi sebagai tema utama blog ini. Karena apa yang berkenaan dengan puisi, saya sudah mempelajarinya waktu kuliah di jurusan sastra tahun lalu.

Ketika kita hendak mengapresiasi sebuah puisi. Ada poin-poin yang perlu kita ketahui. misalnya:

  1. Pengarang; ketahui siapa yang mengarangnya. Karya sastra WS. Rendra akan berbeda dengan Karya Sastra Chairil Anwar.
  2. Lingkungan hidup; ketahui lingkungan seorang pengarangnya. Karena biasanya pengarang membuat suatu karya mendapatkan imajinasi dari kisahnya.
  3. Dan sebagainya

Mari kita kembali ke topik. “Sastra Tak Hanya Identik Dengan Keindahan”. Lalu, apa saja pesan yang dapat kita ambil dari karya sastra selain keindahan. Mari kita lihat bahasannya:

Menyempurnakan Etika dan Semangat Juang

Sastra mempunyai peran penting di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Memberikan nilai-nilai etika yang merobohkan kebencian menjadi kecintaan. Mendiang presiden Amerika Serikat (AS) John F. Kennedy pernah mengatakan bahwa jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Jika politik bengkok, sastra akan meluruskannya.

Sastra sebagai penggerak semangat  perjuangan rakyat bukanlah hal baru. Di India, puisi-puisi Rabindranat Tagore turut membantu mendorong rakyat  di sana untuk melawan penjajahan Inggris. Di Indonesia juga demikian, karya sastra Pramodeya Ananta Toer, W.S. Rendra, Wiji Thukul, dan lain-lainnya juga mengasah inspirasi perlawanan terhadap penindasan pemerintahan Soeharto yang lengser di tahun 1998.

Jika militer punya punya senapan dan peluru. Sastra mempunyai kata-kata untuk menyelaraskan kehidupan yang rusak ke dalam kerukunan umat manusia.

Simbol Keharmonisan

Sebuah karya sastra juga mampu meningkatkan keharmonisan antar sesama manusia. Kita contohkan ketika sebuah karya dipentaskan. Musikalisasi puisi atau teaterikal, disana akan terdapat berbagai golongan yang ikut masuk untuk menonton atau ikut andil didalam menyumbang sebuah karya sastra.

Semua berseru seakan-akan satu darah dalam sosial. Rasa senang timbul bersama-sama. Saling menyambut satu sama lain. Tidak berpikir bahwa mereka bukan ras yang sama. Tetapi bersatu padu dalam menjalankan suatu aktifitas Seni bersama-sama.

Ini menunjukkan bahwa, karya sastra mampu untuk meningkatkan keharmonisan antar masyarakat. Tidak dapat dielakkan kewajiban kita untuk membina karya sastra yang ada agar sastra tetap eksis didalam kehidupan kita.

2 komentar:

Penyakit Kanker Kelenjar Getah Bening mengatakan...

sastra memang simbol keharmonisan. selama ini banyak golongan yang menganggap bahwa sastra adalah sesuatu yang berlebihan. mulai sekarang, anggapan tersebut harus segera dibenahi.

Yadik Hendriyanto mengatakan...

yah, benar kawan. mari mulai dari hal terkecil untuk melakukan keharmonisan dari sikap positif sastra indonesia.

Posting Komentar